Sunday, November 18, 2012

Coba Dahulu, Tak Ada yang Salah Bukan?

hai guys gue balik lagi nih, kali ini dengan cerpen yang bertema 'perbuatan baik membuat orang lain bahagia' ya tugas dari dispendik gitu. just check it out :)

~


Coba Dahulu, Tak Ada yang Salah Bukan?
“Eh, kamu jadi cewek jangan murahan kenapa? Semua cowok kamu embat, memang kamu udah paling cantik apa?” teriak Jeni padaku.
            “Heh, yang murahan itu siapa? Dan siapa juga yang mengembat semua cowok? Jaga dong mulut kamu itu. Lagian, bukannya itu sikapmu ya? Bahkan, kak Sonya aja sampai enek liat kamu, cuman gara-gara kamu ngembat cowoknya dari dia,” balasku.
            “Apa kamu bilang? Dasar anak angkat,”
            “Apa kamu bilang? Kalau aku anak angkat terus kenapa? Masalah? Aku harus bilang ‘WOW’ gitu, hah?”
            “Ih…..,” teriaknya sembari menjambak rambut hitamku. Gila banget ini cewek.
            Aku pun membalasnya, menjambak rambut hitam kemerahan miliknya, dan membuatnya berteriak. Kami pun terus bertengkar, ditambah lagi suasana kelas yang memang lagi panas-panasnya.
            Hingga kudengar suara galak nan nyaring punya ibu Rosa. Matilah kami.

~

            “Jeni, Sarah! Apakah kalian tidak bosan, setiap saat harus berantem seperti anak kecil? Dan permasalahannya, ini sudah perkelahian kalian yang ke 10, dan semuanya tentang hal yang sama, cowok! Emang tidak ada yang lain apa?” teriak ibu Rosa di ruang kepala sekolah.
            “Tapi bu, dia memang suka mengembat cowok-cowok yang ada di sekolah ini,” terang Jeni pada bu Rosa.
            “Enak aja, kamu jealous kali, soalnya tidak ada cowok yang tertarik padamu, iya kan?” komporku.
            “Apa kamu bilang?” kata Jeni sembari meninggikan suaranya.
            “Sudah cukup, kalian bisa tidak untuk berhenti berteriak ke satu sama lain? Saya capek banget ngurusin kalian, kayak anak TK yang berebut mainan saja. Kembali kalian ke kelas, dan jangan harap kalian bisa pulang cepat hari ini,” ancam bu Rosa terhadap kami.
            Huh, dasar anak kaya, kayaknya udah yang paling kaya di sekolah ini.

~
            Duh, sial banget sih hidupku. Setiap hari harus berantem sama Jeni, dan selalu masalah cowok. Hello, siapa juga yang cari perhatian sama cowok lain? Gila banget Jeni itu. Dia kali yang maniak cowok tajir plus ganteng. Nyebelin banget tau ga, kayaknya paling cantik aja deh, enek banget aku.
            “Sarah!!!” teriak Bu Rosa dari ruangan kepala sekolah. Apalagi sih?
            “Iya, ada apa bu?” tanyaku dengan suara yang paling manis.
            “Kamu mau kabur atau bagaimana? Saya punya hukuman buatmu, ketimbang saya harus menelpon ibumu setiap saat,” terangnya galak. Hukuman? Apalagi ini? Tuhan, janganlah mengujiku.
            “Hah? Hukuman apa bu?” tanyaku dengan nada pelan.
            “Kau dan Jeni harus membersihkan toilet cewek di bagian koridor kelas 11,”
            “Apa? Ibu yang benar saja dong, saya ka nada les musik dan….,”
            “Tidak ada tapi-tapian, saya tidak mau ada yang kabur dari hukuman ini, mengerti?”
            “Apa bu? Membersihkan toilet? Ibu yang benar saja, saya ini salah satu anak dari komite sekolah ini. Apa ibu mau di mutasi dari sekolah ini?” ancam Jeni yang muncul begitu saja.
“Saya sudah menelpon orang tua kamu dan mereka setuju, jadi saya tidak akan terima yang namanya penolakan, mengerti?” terang bu Rosa seraya memberikan berbagai macam perlengkapan cleaning service. Oh God!
            “Baik bu,” sahut kami berdua.

~

            “Ah,” teriak Jeni yang melihat tikus berkeliaran di toilet.
            “Eh bisa diam ga sih? Capek dengerin teriakan loh yang alay itu,”
            “Apa kamu bilang? Alay?” sergahnya dengan raut muka yang masih ketakutan setelah melihat tikus, atau mungkin jijik.
            “Iya dong alay, itu kan cuma tikus, kenapa kamu takut banget?” tanyaku menantang.
            “Emang kamu berani sama tikus? Tidak usah sok berani deh ya,” cibirnya.
            “Tikus gini doang, apanya sih yang buat serem?” tanyaku  sambil mengambil tikus tersebut, dengan tanganku yang tertutup dengan sarung tangan dan mengarahkannya kepada Jeni.
            “Ih, kamu jorok banget sih, jauhin gih dari aku!” teriaknya mengancam.
            “Kalau aku tidak mau, apa yang akan kamu lakukan? Menjambak rambutku, atau menamparku?” ancamku padanya.
            “Rasakan ini,” dan ‘byur’ cipratan air pel-pelan mengenai muka putihku yang mulus.
            “Kamu gila apa?” teriakku sembari melempar tikus yang kupegang tadi entah kemana.
            “Makanya, jangan sok jagoan deh, aku tidak suka,” sergah Jeni.
            “ Nih, rasain juga!” teriakku dan menyiramkan air pel-pelan yang masih tersisa.
            “See? Kamu yang gila! Enak aja kamu nyiram air ginian ke aku?” teriak Jeni.
            “Emang kenapa? Masalah?”
            “Muka aku itu mulus banget, putih, dan rambut aku ini warnanya bagus banget, kok kamu siramin air begituan sih? Dasar udisk!”
            “Muka sama rambut perawatan aja kok bangga banget Jen, kalau alami sih tidak papa!” sindirku.
            “Kau……,”
            “Jeni!!! Sarah!!!”

~

            Brrrr, rasannya begitu dingin di sini, di tambah lagi dengan dinginnya AC di ruangan kepala sekolah ini. Huh, kami kembali masuk di ruangan ini, dan duduk bersebelahan. Sial banget sih!
            “Kalian ini, selalu saja! Saya pusing banget deh ngurusin kalian berdua. Apa kalian tidak bosan-bosannya bertengkar?” tanya bu Rosa.
            “Tidak!!!” teriak kami berdua.
            Tok, tok,tok.
            “Permisi ibu, saya mencari Sarah,” kata suara tersebut.
            “Mama!!!” teriakku lantang.
            “Cih, kampungan!” cibir Jeni, tapi tidak aku pedulikan.
            “Mama ngapain ke sekolah?” tanyaku pada mama.
            “Mama dengar kamu membuat kekacauan lagi, apa benar?”
            “Tidak ma!”
            “Lalu, kenapa mama sampai di panggil ke sekolah?”
            “Nghh, anu……,”
            “Ibu, mari silahkan duduk dahulu,” potong bu Rosa.
            “Ada masalah apalagi ya ibu dengan Sarah, anak saya?”
            “Seperti biasa, anak ibu kembali bertengkar dengan Jeni hanya karena masalah cowok,”
            “Aduh, maafkan anak saya ini ya bu, memang seperti ini anaknya,” terang mama pada bu Rosa. Aku hanya mencibir kesal, terlebih lagi ketika melihat Jeni tersenyum licik padaku. Persetan kau Jeni.
            “Baik ibu, sekarang saya mohon ibu untuk membawa pulang anak ibu, sebelum perangnya dengan Jeni berlanjut. Terima kasih ibu sudah datang, dan saya mohon maaf kalau merepotkan anda,” terang bu Rosa.
            “Tidak apa-apa bu Rosa. Kalau begitu, saya permisi dulu ya bu. Selamat sore,” kata mama sembari menarik tangan mungilku.

~

            “Kamu ada masalah apalagi dengan Jeni saying?” tanya mama ketika mobil mama telah keluar dari sekolah.
            “Seperti biasa ma, Jeni selalu menuduhku merebut cowok-cowok ganteng di sekolah, padahal tidak seperti itu. Cowok-cowok itu yang tertarik padaku,” terangku pada mama.
            “Tapi kenapa selalu harus adu mulut, dan berakhir kekerasan fisik seperti itu sih? Mama tidak suka kalau kamu jadi kasar,”
            “Dia sih ma, nyebelin banget! Suka banget nuduh orang,”
            “Kenapa kalian tidak berbaikan saja? Kamu minta maaf saja duluan,”
            “Tapi kan bukan aku yang salah ma!” sergahku.
            “Minta maaf duluan apa salahnya sih? Tidak ada bukan? Lagipula, minta maaf kan termasuk perbuatan yang baik, dan perbuatan baik itu pasti akan membahagiakan orang lain. Ya, kalau dalam masalahmu, kalau kamu minta maaf duluan, siapa tahu dia akan menyadari kesalahannya dan meminta maaf padamu, benar bukan?”
            Aku pun tersenyum mendegar perkataan mama. Sepertinya, apa yang disarankan mama padaku tidak ada salahnya. Baiklah, besok aku akan meminta maaf terlebih dahulu pada Jeni.

~

            Kulihat Jeni dan gerombolannya sedang bergosip ria di depan ruang kelas 11 IPA 3. Aku pun memberanikan diri melangkah ke tempat mereka. Dan kudapati pandangan teman-temannya yang berpandangan tajam padaku.
            “Ngapain lagi sih kamu? Ganggu banget tahu tidak? Dasar udik!” ingin rasanya aku menonjok muka mulus perawatan miliknya, namun aku hanya berusaha menenangkan diriku.
            “Jen, aku kesini cuma mau minta maaf, soalnya aku terlalu sering ngembat cowok-cowok ganteng disini, kamu mau kan memaafkanku?” tanyaku padanya, dengan setulus hati.
            “Sarah! Kamu tidak kesambet atau bagaimana kan?” tanyanya dengan mulut ternganga.
            “Tidak kok, aku benar-benar minta maaf padamu, maaf ya Jen!!!” ucapkan sembari meninggalkannya bersama gerombolannya.
            “Sarah!!!!” tiba-tiba kudengar suara teriakan Jeni dan mendapati dirinya yang berlari ke arahku.
            “Sarah, aku juga mau minta maaf, karena sering menuduhmu yang tidak-tidak selama ini. Kamu mau memaafkan aku juga kan?” tanya Jeni dengan senyum tulusnya. Hahaha, aku sudah tidak ingat, kapan terakhir kali dia memamerkan senyumannya itu.
            “Iya aku memaafkanmu juga,” jawabku tulus.
            Tidak ada salahnya bukan berbuat baik terlebih dahulu? Toh, tidak akan rugi, dan justru akan membahagiakan orang lain. Mama, terima kasih telah menyadarkan aku.

~


Gimana nih cerita gue? Aneh banget dah hehe 

No comments:

Post a Comment